Minggu, 01 November 2020

Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran secara umum adalah proses interaksi antara peserta didik atau siswa dengan pendidik atau guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar Pembelajaran merupakan suatu system yang dirancang sedemikian rupa, sehingga siswa atau peserta didik dapat belajar sesuai dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Karena merupakan suatu system, maka dalam pembelajaran meliputi berbagai komponen diantaranya siswa/peserta didik, guru, tujuan dan isi pembelajaran, metode dan Media pembelajaran, serta Evaluasi Pembelajaran.

Dari sekian banyak metode pembelajaran, terdapat salah satu metode pembelajaran yakni pembelajaran kontekstual.  Pembelajaran  ini lebih  dikenal  dengan sebutan  CTL  (contextual  teaching  and  learning)  yakni konsep belajar yang beranggapan bahwa anak akan lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah, artinya belajar akan lebih bermakna jika anak  belajar  dan  menglaminya  sendiri  apa  yang  akan  dipelajarinya, bukan  sebatas  mengetahui.

Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang mengkaitkan materi pembelajaran dengan konteks dunia nyata yang dihadapi siswa sehari-hari baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, alam sekitar dan dunia kerja. Tujuan utamany adalah siswa atau peserta didik mampu membuat hubungan antara pengetahuan yang telah dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kaitan dengan penerapatan tersebut peserta didik atau siswa melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran yakni : kontruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menyelidiki (inquiry), masyaraka belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian autentik (authentic assessment).

Mengapa model pembelajaran ini penting dan perlu diterapkan kepada para peserta didik. Terdapat beberapa alasan pokok mengapa model tersebut perlu diterapkan, yakni :
  1. Sebagian besar waktu belajar sehari-hari di sekolah masih didominasi kegiatan penyampaian pengetahuan oleh guru, sementara siswa ”dipaksa” memperhatikan dan menerimanya, sehingga tidak menyenangkan dan memberdayakan siswa.
  2. Materi pembelajaran bersifat abstrak-teoritis-akademis, tdak terkait dengan masalah-masalah yang dihadapi siswa sehari-hari di lingkungan keluarga, masyarakat, alam sekitar dan dunia kerja.
  3. Penilaian hanya dilakukan dengan tes yang menekankan pengetahuan, tidak menilai kualitas dan kemampuan belajar siswa yang autentik pada situasi yang autentik. 
  4. Sumber belajar masih terfokus pada guru dan buku. Lingkungan sekitar belum dimanfaatkan secara optimal.

Landasan filosofi pemelajaran kontekstual adalah konstruktivisme yang menyatakan bahwa pengetahuan tidak dapat ditransfer dari guru ke siswa seperti halnya mengisi botol kosong, sebab otak siswa tidak kosong melainkan sudah berisi pengetahuan hasil pengalaman-pengalaman sebelumnya. Siswa tidak hanya ”menerima” pengetahuan, namun ”mengkonstruksi” sendiri pengetahuannya melalui proses intra-individual (asimilasi dan akomodasi) dan inter-individual (interaksi sosial).

Dalam  pelaksanaannya,  CTL  dipengarui  oleh  berbagai  faktor yang datang baik dari dalam ataupun dari luar, yaitu:
  1. Pembelajaran  harus  memerhatikan  pengetahuan  yang  sudah dimiliki oleh siswa.
  2. Pembelajaran  dimulai  dari  keseluruan  menuju  bagian-bagian yang lebih khusus.
  3. Pembelajaran  harus  ditekankan  pada  pemahaman,  dengan  cara: (a)  menyusun  konsep  sementara,  (b)  melakukan  sharing  untuk memperoleh  masukan  dan  tanggapan  dari  orang  lain,  dan  (c) merevisi dan mengembangkan konsep.
  4. Pembelajaran  ditekankan  pada  upaya  mempraktikkan  secara langsung apa-apa yang dipelajari.
  5. Adanya  refleksi  terhadap  strategi  pembelajaran  dan pengembangan pengetahuan yang dipelajari.
Beberapa model pembelajaran yang merupakan aplikasi pembelajaran kontekstual antara lain model pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran koperatif (cooperatif learning), pembelajaran berbasis masalah ( problem based learning).
  1. Model Pembelajaran Langsung Inti dari model pembelajaran langsung adalah guru mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan tertentu, selanjutnya melatihkan keterampilan tersebut selangkah demi selangkah kepada siswa.
  2. Model Pembelajaran Koperatif Inti model pembelajaran koperatif adalah siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil, yang anggota-anggotanya memeliki tingkat kemampuan yang berbeda (heterogen). Dalam memahami suatu bahan pelajaran dan menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerjasama sampai seluruh anggota menguasai bahan pelajaran tersebut 
  3. Model Pembelajaran Berbasis Masalah Inti dari pembelajaran berbasis masalah adalah guru menghadapkan siswa pada situasi masalah kehidupan nyata (autentik) dan bermakna, memfasilitasi siswa untuk memecahkannya melalui penyelidikan/ inkuari dan kerjasama, memfasilitasi dialog dari berbagai segi, merangsang siswa untuk menghasilkan karya pemecahan dan peragaan hasil. Tujuan yang dapat dikembangkan melalui model pembelajaran ini adalah keterampilan berfikir dan pemecahan masalah, kinerja dalam  menghadapi situasi kehidupan nyata, membentuk pebelajar yang otonom dan mandiri.
Ref:
Makalah dalam Workshop Sosialisasi dan Iplementasi Kurikulum 2004 (Dr Jumadi) 
Inovasi Model Pembelajaran  Sesuai Kurikulum 2013   (Nurdyansyah, M.Pd & Eni Fariyatul Fahyuni. M.Pd.I

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Lima Perkara Yang Tidak Boleh Ditunda Tunda

Oleh: Winarto Setiap manusia memiliki takdir kematian yang tidak mengenal usia muda ataupun tua. Tidak pula mengenal jenis kelamin baik pere...