Jumat, 08 Mei 2020

Cara Menghadapi Wabah Penyakit

Oleh: Winarto.
Virus Corona adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Penyakit karena infeksi virus ini disebut COVID-19. Virus Corona bisa menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan, pneumonia akut, sampai kematian. Infeksi virus Corona atau COVID-19 bisa menyebabkan penderitanya mengalami gejala flu, seperti demam, pilek, batuk, sakit tenggorokan, dan sakit kepala; atau gejala penyakit infeksi pernapasan berat, seperti demam tinggi, batuk berdahak bahkan berdarah, sesak napas, dan nyeri dada. Data terakhir Jumat 8 Mei 2020 menunjukkan total kasus positif COVID-19 di Indonesia sebanyak 9645 kasus, sementara 2381 orang sembuh dan 930 meninggal dunia
Bagaimana umat Islam memahami terhadap musibah tersebut?
Pertama, selalu berdoa dan mohon pertolongan dari Alloh SWT.  Kita wajib memahami dan meyakini bahwa musibah wabah penyakit yang sedang menggejala dan menyebar ini adalah sebagai UJian dari Alloh SWT. Musibah bisa disebut sebagai ujian manakala orang atau masyarakat yang tertimpa musibah adalah mereka yang baik, shaleh atau taat kepada Allah swt, hal ini dinyatakan dalam firman Allah swt:

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٥ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ ١٥٦ أُوْلَٰٓئِكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوَٰتٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةٞۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ ١٥٧
Sungguh, Kami akan menguji kamu berupa sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk (QS Al Baqarah [2]:155-157).

Pandemi virus corona mesti dianggap sebagai ujian dari Allah SWT. Hal ini sejalan dengan FirmanNya:
كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةٗۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ ٣٥
Artinya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian/cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (QS. al-Anbiyaa’ [21]: 35).
Lebih lanjut sikap terbaik menghadapi ujian berupa serangan virus korona itu yakni:
Kedua , berikhtiar menghindarinya dengan memperhatikan hukum kausalitas Sunnatullah. Artinya suatu akibat pasti ada penyebanya. Dalam hal ini maka ada bebrapa  bentuk ikhtiar kita dalam mengurangi dan mengatasi penyebaran penyakit ini adalah :
1.   Menerapkan pola hidup bersih dan sehat.
Kesadaran hidup bersih dan sehat perlu kita tingkatkan. Melalui pola hidup bersih dan sehat, maka daya imunitas kita akan tinggi. Daya imun yang tinggi akan menyebabkan penyakit tidak mudah menyerang, karena pertahana diri kita kuat. Bagaimana pola hidup yang sehat dan bersih itu? Makan makanan yang bergizi (tidak harus mhal) buah dan sayur, istirahat yang cukup, olah raga teratur. Selain hal tersebut, kita harus mencuci tangan ketika akan makan atau minum atau baru datang dari bepergian. Maka marilah kita untuk meningkatkan pola hidup bersih dan sehat:
Seorang mukmin yang kuat (fisik, mental, jiwa, dan raga) lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan.” (HR Muslim).
2.   Menjaga jarak (social Distancing)
Virus akan menyebar melalui sentuhan atau udara lewat pernafasan. Maka sebaiknya kita harus selalu menjaga jarak aman, agar tidak mudah terpapar virus. Ketika seseorang batuk atau bersin, mereka menyemprotkan tetesan cairan kecil (droplet) dari hidung atau mulut mereka yang mungkin mengandung virus. Jika kita terlalu dekat, kita bisa menghirup tetesan air tersebut, termasuk virus corona COVID-19 jika orang tersebut positif COVID-19, sehingga kita akan menjadi tertular.
3.   Karantina Diri (lockdown)
Untuk sementara waktu hindari kerumunan, karena hal tersebut sangat rentan dalam penyebaran virus. Dalam sejarah, wabah penyakit menular sudah terjadi pada masa Rasulullah SAW. Wabah tersebut adalah kusta yang menular dan mematikan dan belum ada obatnya. Untuk mengatasi wabah tersebut salah satu upaya Rasulullah adalah dengan menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Ketika itu Rasul memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta tersebut. Dengan demikian, metode karantina telah diterapkan sejak zaman Rasulullah untuk mencegah wabah penyakit menular menjalar ke wilayah lain. Untuk memastikan perintah tersebut dilaksanakan, Rasul membangun tembok di sekitar daerah wabah.
Rasulullah juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar. Beliau bersabda: “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah tersebut. Sebaliknya jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu” (HR. Al-Bukhari).

Ketiga, kita bertawakkal
Tawakkal artinya berserah diri sepenuhnya kepada Alloh. Artinya setalah kita berdoa dan berikhtiar . Kita tawakkalkan diri kita kepadaNya. Karena hidup dan mati kita sebagai seorang hamba semua berada di tanganNya

Semoga bermanfaat......!!!!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Lima Perkara Yang Tidak Boleh Ditunda Tunda

Oleh: Winarto Setiap manusia memiliki takdir kematian yang tidak mengenal usia muda ataupun tua. Tidak pula mengenal jenis kelamin baik pere...