Senin, 11 Maret 2024

Tingkatan Puasa Ramadhan

Oleh: Winarto
Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dijalankan oleh seluruh umat Islam yang baligh, berakal sehat, dan mampu. Selain sebagai kewajiban, Dasar pokok dari ibadah puasa ini adalah Surat Al Baqoroh ayat 183:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ١٨٣
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa
Sebagai hamba yang beriman, penting untuk mengetahui dan memahami akan arti pentingnya menjalankan ibadah puasa ini. Ibadah puasa hukumnya wajib. 
Hukum wajib merupakan perintah tegas dari Allah SWT kepada seluruh umat Islam untuk melakukan suatu perbuatan. Perintah ini bersifat mutlak dan tidak boleh ditinggalkan.Puasa Ramadhan juga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan fisik, mental, dan spiritual. Selama menjalankan ibadah puasa Ramadhan seharusnya bisa menjaga sikap dan perilku yang dapat membatalkan dan menghilangkan paha puasa ramadhan. Beberapa hal yang harus diperhatikan diantaranya :
  1. Menahan diri: Menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri selama waktu yang ditentukan.
  2. Menjaga lisan dan perbuatan: Hindari berkata-kata kotor, bergunjing, dan perbuatan dosa lainnya.
  3. Melaksanakan ibadah: Perbanyak ibadah shalat, membaca Al-Quran, dan amalan lainnya.
Selanjutnya berkaitan dengan kesehatan dan kebugaran tubuh atau fisik kita maka kita perlu Menjaga kesehatan: Perhatikan asupan makanan dan minuman saat sahur dan berbuka puasa. Lakukan aktivitas fisik yang ringan dan istirahat yang cukup. Selain hal tersebut kita juga harus mampu Menjaga kebersihan: Menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Dari segi sosial dalam rangka memperkuat hablu minannas, maka kita harus gemar Berbagi dengan sesama dengan dilandasi oleh keikhlasan, mengharap ridho dari Alloh SWT. Amalan nyata ini dapat berbentuk Bersedekah dan membantu orang lain yang membutuhkan.
Apabla kita amati, pelaksanaan ibadah puasa ramadhan dapat kita kategorikan dalam tiga kelompok. Imam Al-Ghazali menyebutkan adanya tiga tingkatan orang yang menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Tingkatan ini menggambarkan kualitas dan fokus seseorang dalam menjalankan puasanya. Berikut penjelasannya:
  1. Puasa Awam (Shaumul Awwam): Ini adalah tingkatan dasar atau umum. Puasa ini berfokus pada menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri selama waktu yang ditentukan. Puasa umum adalah mencegah perut dan kemaluan daripada memenuhi keinginannya. Menahan haus dan lapar, tidak minum dan makan, serta tidak melakukan hubungan suami istri. Kebanyakan orang yang berpuasa berada pada tingkatan ini.
  2. Puasa Khusus (Shaumul Khususi):Ini adalah tingkatan yang lebih tinggi daripada puasa awam. Selain menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, puasa khusus juga menahan diri dari perbuatan dosa kecil, seperti berbohong, bergunjing, dan berkata kotor. Orang yang menjalankan puasa khusus ini berusaha untuk menjaga lisan, pandangan, dan anggota tubuh lainnya dari hal-hal yang tidak bermanfaat atau bisa menjerumuskan ke dosa. Dapat disimpulkan bahwa Puasa khusus adalah selain menahan diri dari makan, minum dan hubungan badan dengan suami/istri, yang bersangkutan juga berusaha untuk mencegah pendengaran, penglihatan, lidah, tangan, kaki dan anggota-anggota tubuh lainnya dari berbuat dosa Contoh nyata sikap dan perilaku puasa khusus adalah lidah ikut berpuasa dengan tidak mengucapkan kata-kata kotor, kata-kata yang sia-sia, yang dapat menyakitkan hati orang lain, tidak mengucapkan dusta, tidak ghibah, tidak berkata keji, tidak mengumpat dan lain sebagainya 
  3. Puasa Khusus dari Khusus (Shaumul Khususi Khusus): Ini adalah tingkatan puasa yang paling tinggi. Seseorang yang menjalankan puasa khusus dari khusus tidak hanya menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dan dosa kecil, tetapi juga menghiasi puasanya dengan banyak amal ibadah. Mereka berusaha untuk terus menerus meningkatkan kualitas puasanya dengan memperbanyak ibadah sunnah, dzikir, tilawah Al-Quran, dan meningkatkan keikhlasan serta khusyuk dalam beribadah. Contoh riel dari Puasa Khusus dari yang Khusus ini adalah, hati ikut berpuasa dengan membersihkan hati dari keinginan yang hina, seperti serakah, iri, riya, berniat jahat dalam hati, berniat licik dalam hati dan lain sebagainya.
Imam Al-Ghazali juga menjelaskan, berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW dikatakan bahwa puasa setengahnya sabar dan sabar setengahnya iman. Nabi Muhammad SAW bersabda, "Ash-shaumu nishfush-shabri (puasa itu setengah sabar)." Dirawikan Imam At-Tirmidzi dari seorang laki-laki dari suku Bani Salim dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah. Rasulullah SAW juga bersabda, "Ash-shabni nishful iimaan (sabar itu setengah iman)." Dirawikan Abu Na'im dari Ibnu Mas'ud dengan sanad baik.

Penting dicatat bahwa:Tingkatan ini bukanlah jenjang yang harus dilewati secara berurutan. Seseorang bisa saja langsung berada di tingkatan puasa khusus atau puasa khusus dari khusus tergantung niat dan usahanya. Yang terpenting adalah terus berusaha meningkatkan kualitas puasa dari tahun ke tahun.

Semoga bermanfaat.!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Lima Perkara Yang Tidak Boleh Ditunda Tunda

Oleh: Winarto Setiap manusia memiliki takdir kematian yang tidak mengenal usia muda ataupun tua. Tidak pula mengenal jenis kelamin baik pere...